Beberapa saat sebelum Lynx dan Marni tiba, Pimpinan kelompok perampok tersebut memberikan perintah. "Berhenti disini, kita beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan." Katanya sambil duduk di sebuah batang pohon yang patah. "Roki, ikat mereka dan awasi baik-baik, jangan sampai melarikan diri." Lanjutnya.

Tino datang mendekat sambil membawa seikat daging dari perbekalan mereka. "Bos, wanita ini sangat cantik. Sangat disayangkan kalau kita bawa ke markas. Kita tidak akan dapat merasakan kenikmatan tubuhnya jika sudah diserahkan."

Pemimpin perampok menganggukkan kepala, "Katakan! Apa idemu?"

"Bos, wanita ini sudah tidak perawan. Tidak akan ada bedanya kita serahkan dia dalam keadaan sudah kita nikmati atau belum. Bos bisa menikmatinya duluan, setelah itu giliran kami." kata Tino sambil menelan ludahnya. "Bagaimana kawan-kawan apakah kalian setuju dengan ideku ?" Teriaknya dengan keras yang disambut gembira oleh teman-temannya.

"Ide bagus Tino. Kami setuju. Ayo bos, segera lakukan. Sudah lama kita tidak menikmati seorang wanita." Kata salah satu anggota perampok sambil menjilat bibirnya.

"Ayo kita undi siapa giliran berikutnya setelah bos!" teriak yang lainnya sambil melambaikan tangan mengajak berkumpul anggotanya.

"Bangsat kalian. Jangan berani-berani menyentuh istriku." teriak Nanang sambil berusaha melepaskan diri dari ikatan.

Ayahnya Marni berkata dengan marah, "Lepaskan menantuku. Jangan sentuh dia!"

Sementara ibunya Marni dan adik Iparnya, Jaka. hanya menangis ketakutan.

"Nanang, tolong aku!" teriaknya ketakutan. "Jangan mendekat! Jangan mendekat!" Teriaknya panik melihat Tino mendekat.

Namun para perampok itu tidak memperdulikan mereka dan tertawa terbahak-bahak. Tino segera melepaskan ikatan Amara.

Amara melihat kesempatan karena terlepas dari ikatan dan takut diperkosa, Ia mendorong Tino dan melarikan diri. Namun Tino hanya tertawa. Mereka semua telah berdiri mengurung Amara sambil membentangkan kedua tangan mereka.

"Hayo, mau kemana kamu lari cantik." Kata salah satu perampok.

"Kamu tidak akan bisa lari dari sini." Sahut yang lainnya.

"Kami akan membuatmu sangat menikmatinya. Kamu akan merasakan sensasi lebih nikmat daripada bersama suamimu." Kata Tino.

"Bangsat kalian semua! Kubunuh kalian. Lepaskan aku! Lepaskan istriku! Lawan aku kalau berani!" Teriak Nanang dengan marah.

"Kumohon lepaskan menantuku." Kata ayahnya Marni sambil menangis pasrah.

Salah satu anggota perampok mendekati Nanang yang terikat dan menendang perutnya dengan keras hingga Nanang merasa pusing dan mual. "Bangsat kalian, lepaskan istriku!" Teriaknya lemah sambil menahan sakit.

Amara yang ketakutan berusaha meloloskan diri, tapi kemanapun dia melangkah, jalannya sudah tertutup rapat.

Pemimpin perampok lalu berdiri dan mendekat sambil tertawa. Dia mendekati Amara yang sedang memunggunginya dan menarik rambutnya dengan keras. "Mau kemana kamu cantik. Layani aku dengan baik."

Rasa kaget, takut dan sakit menjadi satu dirasakan Amara. Dia tidak menyadari keberadaan pimpinan perampok hingga tiba-tiba saja dia merasakan sakit karena rambutnya ditarik. "Argh...! Teriak Amara kesakitan. "Lepaskan aku!"

Sambil menahan sakit, Amara membalikkan badannya dan melihat sosok pria besar, pimpinan perampok yang menarik rambutnya.

Amara berusaha melepaskan diri, namun semakin dia berontak, semakin sakit kulit kepalanya. Amara berusaha menendang bagian bawah pimpinan perampok itu agar bisa melepaskan diri. Namun kekuatan dan kecepatan Amara tidaklah ada artinya bagi pimpinan perampok. Dengan mudahnya dia menahan kaki Amara yang menendangnya dan melemparkannya ke samping dengan keras.

Amara kesakitan, debu berterbangan menutupi wajah dan pakaiannya. Pemimpin perampok mendekat dan menarik rambut Amara lagi, memaksanya berdiri.

Amara yang sedang menahan sakit karena terlempar, berdiri kesakitan mengikuti tarikan tangan pemimpin perampok. Matanya menatap dengan wajah memelas.

"Beraninya kamu melawan!" Bentaknya sambil menampar wajah Amara dengan keras.

Bekas tamparan di pipi kiri Amara tercetak jelas, tampak terlihat bekas telapak tangan pemimpin perampok. Amara menangis kesakitan. Dari sela-sela bibirnya keluar cairan darah.

Amara berusaha menahan tubuhnya yang terasa lemas agar tidak terjatuh. Rambutnya sedang dipegang dengan kuat oleh pemimpin perampok, membuatnya sangat kesakitan saat tubuhnya merosot ke bawah.

"Kita lihat, seberapa kuat kamu mampu melawan?" Pemimpin perampok tertawa terbahak-bahak sambil membangunkan Amara dengan menarik rambutnya. Amara berusaha segera berdiri sambil menahan rasa sakit yang di deritanya.

Amara berusaha memohon ampun sambil menangis, kedua tangannya berusaha melepaskan pegangan tangan pemimpin perampok yang menggenggam erat rambutnya.

"Lepaskan istriku! Hentikan! Jangan ganggu istriku!" Teriak Nanang sambil menangis. Dia tidak sanggup membayangkan apa yang akan terjadi kepada istrinya.

Ayah Marni dan Ibunya Marni hanya bisa menangis sambil memejamkan mata, tidak sanggup melihat kejadian yang menimpa menantunya.

Sementara Jaka melihat kakaknya menjadi bahan tertawaan dan tontonan, hanya bisa memalingkan wajah dan menangis. Dia merasa tidak sanggup berbuat apa-apa.

Para perampok yang mengelilingi mereka, terlihat tampak gembira melihat perbuatan pemimpin perampok kepada Amara. Mereka menelan ludah, merasa tidak sabar menunggu giliran mereka yang telah ditentukan dari undian sebelumnya.

Di tengah hutan yang sepi, hanya teriakan kesakitan Amara yang terdengar menyayat hati. Pimpinan perampok memeluk dan mencium Amara dengan kasar sesuka hatinya. Sementara Amara berusaha menahan sakit karena rambutnya masih ditahan sambil menghentikan perbuatan pimpinan merampok yang menciuminya.

"Kumohon... Tolong lepaskan aku!" Ratap Amara memohon.

"Melepaskanmu? Baiklah aku akan melepaskanmu." Kata pimpinan perampok sambil tertawa.

Amara sedikit merasa lega mendengarnya, meski rasa tidak percaya masih melekat, namun Amara hanya bisa berharap pimpinan perampok itu memenuhi kata-katanya.

"Jangan!" Teriak Amara tiba-tiba.

Amara kaget, pakaiannya ditarik paksa hingga terlihat jelas oleh seluruh kawanan perampok. Dia berusaha menyilangkan kakinya dan menutupi dengan kedua tangannya, namun pimpinan perampok menamparnya dengan keras."Turunkan tanganmu, biarkan anak buahku menikmatinya! Kalau tidak, kubunuh semua keluargamu!" Ancam pimpinan perampok."Bukankah aku sudah bilang akan melepaskanmu. Dan sekarang sudah ku lepaskan seluruh pakaianmu," lanjutnya sambil tertawa terbahak-bahak.

"Kumohon, lepaskan aku." Kata Amara sambil menangis pasrah. Dia tidak berani menutupi tubuhnya lagi dan membiarkan para perampok memandanginya dengan liar.

Pimpinan perampok itu melepaskan pegangannya pada rambut Amara.

Amara yang dilepaskan memandang ke sekitar, ingin melarikan diri tetapi para anggota perampok sudah mengelilingi tempat itu menjaganya.

"Ku mohon, Lepaskan aku!" Kata Amara lirih.

Pimpinan perampok menarik paksa tangan Amara dan tertawa, "Lihat, aku sudah melepaskanmu, tapi kamu sendiri yang tidak mau pergi."

"Kemari manis, aku akan membuatmu senang," kata salah satu anggotanya dengan bersemangat.

"Lepaskan istriku! Lawan aku jika kalian berani." Teriak Nanang sambil menangis melihat istrinya dipermalukan.

Seorang perampok yang berada di dekat Nanang langsung mendatangi dan menghantam perutnya. "Diam, saksikan saja tontonan menarik ini. Aku yakin kamu bakal menikmatinya." Katanya sambil tertawa.

Nanang terdiam lemas tidak mampu bersuara. Pukulan yang dia rasakan di perutnya terlalu keras, tidak mampu ditahannya.

Sementara itu, kepala perampok mendekatkan lagi wajahnya ke Amara dan menciumnya. Amara berontak menggeleng-gelengkan kepalanya menolak.

"Berani menolak ya?" Kata pimpinan perampok dengan wajah gusar. "Hajar pak tua itu." Katanya kepada anak buahnya.

Salah satu anak buahnya mendekati ayahnya Marni. Amara ketakutan dan memohon."Tolong.. Jangan! Jangan sakiti mereka." Katanya memohon.

Pimpinan perampok tidak memperdulikan kata-katanya dan membiarkan anak buahnya memukuli ayahnya Marni untuk memberi Amara pelajaran.

"Hentikan! Tolong hentikan!" teriak ibunya Marni

Setelah beberapa pukulan dan terlihat terluka cukup parah, pimpinan perampok segera berkata "Cukup!"

"Itu hukuman jika kamu berani melawan. Dan mereka semua akan kusiksa jika kamu masih berani melawan." Kata pimpinan perampok sambil menarik lagi rambut Amara agar tidak bisa bergerak.

Amara tidak berani melawan lagi. Dia pasrah dan menangis saat pimpinan perampok melumat bibirnya dan menciumi lehernya.

Karena tidak tahan menerima perlakuan pemimpin perampok, Amara tanpa sadar mendorong tubuh pimpinan perampok sehingga ia terlepas.

"Berani-beraninya kamu melawan. Kamu lupa apa yang akan terjadi kepada mereka semua?" Bentak pimpinan perampok.

Pemimpin perampok menarik Amara dan melemparnya ke samping hingga Amara terbanting ke tanah. Sambil menahan sakit pada tubuhnya yang terluka, Amara menahan rasa takut saat pemimpin perampok itu mendekati dan berusaha menindihnya.

"Lepaskan wanita itu!" Teriak Lynx.

